BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam proses belajar mengajar, tiga unsur yang amat penting adalah metode mengajar,media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran . Dalam makalah ini akan membahas evaluasi atau tes pembelajaran dalam pembelajar Bahasa Inggris.
Dalam metodologi pengajaran, program evaluasi atau tes
pembelajaran adalah untuk mengukur
atau menentukan taraf tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Kedudukan media
pendidikan sebagi alat bantú mengajar ada dalam komponen metodologi, sebagai
salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
Di sini juga akan dibahas hakekat, tujuan dan pendekatan evaluasi
atau tes. Seperti yang kita ketahui bahwa beraneka ragam metodi
untuk evaluasi. Untuk mencapai target evaluasi yang baik kita harus menggunakan metode dan cara yang pantas
untuk anak didik
yang tepat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian dalam makalah ini.
B.
TUJUAN
Mengetahui pengertian dan
hakekat sebuah evaluasi atau tes dalam pelajaran bahasa inggris
Mengetahui tujuan sebuah
evaluasi atau tes dalam bahasa inggris
Mengetahui metode pendekatan
sebuah evaluasi atau tes dalam pelajaran bahasa inggris
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
Menurut Arikunto (dikutip Iskandarwassid dan Dadang, 2008:179—180),
tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk
memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang
seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Selanjutnya,
menurut Nurkancana, tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang
berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak
atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau
prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak
lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
menurut Winkel dalam Sunarto (2009) yang
menyatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau
kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan
bobot yang dicapainya.
Pengertian hasil belajar menurut
Anni (2004:4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar.
Pengertian hasil belajar menurut
Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajaranya.
Pengertian hasil belajar menurut Sukmadinata (2005), prestasi
atau hasil belajar (achievement) merupakan realisasi dari kecakapan-kecakapan
potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar
dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan
pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah,
hasil belajar atau prestasi belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa
akan mata pelajaran yang telah ditempuhnya. Alat untuk mengukur prestasi/hasil
belajar disebut tes prestasi belajar atau achievement test yang disusun oleh
guru atau dosen yang mengajar mata kuliah yang bersangkutan.
Definisi di atas bila di ambil sebuah kesimpulan,
maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh
informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang
telah diberikan oleh pengajar dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada
umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap
kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
B.
HAKEKAT TES BAHASA
Dalam proses pendidikan, evaluasi merupakan salah satu komponen
penting dan
memainkan peranan yang besar dalam mengidentifikasi keberhasilan suatu program
pendidikan. Pada dasarnya, evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh data atau
informasi tentang jarak antara situasi yang ada dan situasi yang diharapkan dengan
menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Dengan menggunakan data dan informasi
yang ada, guru dapat mengambil keputusan tentang kegiatan belajar mengajar
selanjutnya.
Agar proses evaluasi dapat berlangsung, maka instrument evaluasi
harus direncanakan, disusun, dan dilaksanakan. Salah satu instrument evaluasi
yang digunakan secara luas adalah tes. Dalam
pengajaran bahasa, tes seringkali digunakan sebagai satu-satunya alat evaluasi
untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar bahasa.
Tes ini biasa berupa tes baku
atau tes buatan guru, tes lisan, tulisan atau perbuatan. Namun demikian,
saat ini tes yang baku tertulis mendapat tempat khusus dalam evaluasi pembelajaran
mata pelajaran bahasa Indonesia untuk mengukur kemajuan dalam penguasaan.
Dalam evaluasi bahasa Inggris, kita mengenal TOEFL yang validitas dan reliabilitasnya
telah diakui secara luas. Dengan demikian, tes ini memiliki daya aplikasi
yang luas dalam proses pembelajaran bahasa.
Tes adalah suatu proses yang sistematis dalam memperoleh dan
mempergunakan informasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai
dasar pengambilan
keputusan. Tes bahasa Indonesia yang dilakukan saat ini masih 2 beorientasi
pada pengujian teori bahasa dan teori pendidikan bahasa bukan pada apsek
penggunaan bahasa yang komunikatif. Untuk mengukur
kemampuan komunikatif, terutama kemampuan lisan adalah masalah
yang tidak kecil. Banyak teori dan konsep-konsep yang diberikan oleh para ahli
tentang bagaimana seharusnya tes komunikatif tersebut, tetapi bagaimana wujud konkretnya
masih belum jelas. Seperti Marrow, (1981) mengemukakan beberapa ciri memakai bahasa dalam kehidupan sehari-hari berbahasa yang pada kenyataannya tidak diukur
dalam tes-tes bahasa yang konvensional. Ciri-ciri tersebut adalah interaction, unpredictability,
contex, purpose, performance, authenticity, dan behaviour-based.
Menurut Marrow ketujuh hal tersebut tidak diukur dalam tes bahasa
yang konvensional,
baik tes terpilah maupun tes terpadu. Pandangan lain
yang menganggap bahwa perkembangan tes bahasa yang komunikatif
(communicative language testing) tidak sepesat perkembangan pengajaran
komunikatif bahasa (communicative language teaching), tidaklah berarti bahwa
usaha untuk membuat tes komunikatif bahasa tidak dilakukan (Sumardi, Ed.; 1996:95-95).
Artinya pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia secara komunikatif belum
diikuti oleh perkembangan model tes pengajaran bahasa Indonesia yang komunikatif.
Dalam perencanaan dan penyusunan tes bahasa Indonesia diperlukan
berbagai hal,
yang dalam buku Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Bahasa Indonesia
(1994) disebut rubik. Rubrik itu merupakan berbagai aspek yang menetapkan
apa yang harus dilakukan oleh peserta dalam mengikuti tes. Dengan kata lain,
rubrik tes berkaitan dengan prosedur tes, yang meliputi organisasi tes, alokasi waktu
dan petunjuk tes. Sementara itu, input dan respons yang diharapkan merupakan 3 dua
aspek yang mempengaruhi kinerja peserta dalam mengikuti tes bahasa. Input terdiri
atas informasi yang terkandung dalam sebuah tes tertentu, dan peserta diharapkan
memberikan respons atau jawaban terhadap input itu. Sedangkan jawaban sedikit
lebih kompleks, karena ada jawaban aktual dan jawaban yang diharapkan. Perancang
tes dapat menetapkan jawaban yang diharapkan ini melalui desain tes, dan dapat
berusaha mendapatkannya petunjuk tes, spesifikasi tugas dan input yang tepat. Dengan
demikian, respons yang diharapkan ini merupakan bagian dari metode tes. Selain
faktor rubrik, dalam pelaksanaan tes pun perlu memperhatikan input.
Input menyangkut dua aspek, yaitu (1) format dan (2) sifat bahasa.
Format input meliputi saluran dan bentuk penyajian, sarana penyajian, bahasa
penyajian, identifikasi masalah dan tingkat kecepatan. Input dapat disajikan
secara aural atau visual dalam bentuk reseptif, sedangkan jawaban dapat berupa lisan
atau tertulis dalam bentuk atau modus produktif.
Format jawaban yang diharapkan meliputi jenis jawaban, bentuk
jawaban, dan bahasanya. Salah satu jenis jawaban yang diharapkan adalah ―jawaban
pilihan‖ dalam tes pilihan ganda. Bentuk jawaban yang diharapkan dapat berupa
bahasa atau bukan bahasa. Misalnya, jawaban pilihan dalam tes pilihan ganda hanya
memerlukan jawaban non-verbal, seperti memberi tanda silang pada lembar
jawaban tes. Jika bentuk input atau jawaban berupa bahasa, maka bahasa itu dapat
memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah panjang bahasa itu, isi
proposisi, karakteristik organisasi bahasa, dan karakteristik ilokusioner.
Pada dasarnya semua pemakaian bahasa dibatasi oleh konteks atau
situasi. Bahasa
yang digunakan dalam tes bahasa kadang-kadang dinyatakan sebagai bahasa ―non-alami‖
atau ―non-formal‖ atau bahkan dibuat-buat. Oleh karena itu, pembatasan 4 perlu
diberikan dalam pemakaian bahasa dalam tes. Ada lima jenis pembatasan oleh konteks
atau situasi ini, yaitu (1) pembatasan pada saluran, (2) pembatasan pada format,
(3) pembatasan pada karakteristik organisasi bahasa, (4) pembatasan pada karakteristik
proposisi dan ilokusioner; serta (5) pembatasan pada waktu atau panjangnya
jawaban.
Terakhir, hubungan antara input dan jawaban dalam tes bahasa dapat dikelompokkan
ke dalam tiga jenis, yaitu (1) timbal balik, (2) tidak timbal balik, dan (3)
adaptif. Pemakaian bahasa timbal balik dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahasa
oleh seseorang individu untuk mempengaruhi individu lain. Definisi ini mengandung
sejumlah komponen, terutama komponen wacana. Selanjutnya, pemakaian
bahasa non-resiprokal (tidak timbal balik) adalah pemakaian bahasa tanpa interaksi
di antara para pemakai bahasa, sehingga pemakaian bahasa tidak terpengaruh.
Hubungan antara input dan jawaban dikatakan adaptif apabila input dipengaruhi
oleh jawaban, tetapi tanpa umpan balik yang menunjukkan suatu hubungan
timbal balik. Dalam tes adaptif, tugas-tugas tertentu yang diberikan kepada peserta
tes ditentukan oleh jawabannya terhadap tugas-tugas yang pernah diberikan sebelumnya.
C.
TUJUAN TES BAHASA
Tes adalah alat, prosedur evaluasi
yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan testee dengan menggunakan
pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan. Tes dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis, misalnya: tes seleksi, tes masuk, tes penempatan, tes
diagnostik, tes keberhasilan, tes perkembangan, tes hasil prestasi belajar, dan
tes penguasaan.
Tes bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena tes dapat memonitor keberhasilan, baik pembelajar maupun pebelajar dalam mencapai tujuannya. Bagi pebelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang telah dicapai, yaitu kemampuan yang telah diperoleh, sedangkan bagi pembelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui keefektivan pendekatan, metode, teknik, serta fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaaran.
Tes bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena tes dapat memonitor keberhasilan, baik pembelajar maupun pebelajar dalam mencapai tujuannya. Bagi pebelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang telah dicapai, yaitu kemampuan yang telah diperoleh, sedangkan bagi pembelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui keefektivan pendekatan, metode, teknik, serta fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaaran.
Pada dasarnya, tes dilakukan untuk
keuntungan kedua belah pihak, yaitu pembelajar dan pebelajar. Tujuan tes ialah
untuk menjajaki seberapa besar kemam-puan pembelajar dalam menyampaikan materi
kepada pebelajar dan bagi pebelajar sebagai penjajagan seberapa banyak materi
yang mampu mereka serap selama proses pembelajaran. Dari hasil tes,
pembelajar/penyusun silabus dapat mengubah/ memperbaiki silabus, metode, dan
media. Tes merupakan pengumpul informasi (Zuhud,1995:10).
Tidak terlepas
dari kepentingan tes dalam belajar-mengajar bahasa, menurut Harris (1967:2-4)
tes bahasa mempunyai enam tujuan yang berhubungan dan tidak saling
mengecualikan, yaitu:
(1) untuk
menentukan kesiapan pebelajar menerima suatu program pelajaran,
(2) untuk
mengelompokkan atau menempatkan pebelajar pada kelas yang tepat,
(3) untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan khusus individu yang dites,
(4) untuk
mengukur bakat belajar
(5) untuk mengukur luas pencapaian tujuan
belajar pada pebelajar
(6) untuk
menilai keefektivan pelajaran.
Secara ringkas, enam butir itu
digolongkan menjadi tes kemampuan umum atau general profiency (1-3), tes bakat
atau aptitude, (4) dan tes prestasi atau achievement (5 dan 6). Tes kemampuan
umum digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang pada waktu dites (sebagai
hasil keseluruhan belajarnya), yang dapat juga digunakan sebagai dasar untuk
meramalkan kecakapan yang mungkin dicapai selanjutnya. Tes bakat menunjukkan
kemudahan individu untuk memperoleh kerterampilan khusus dan kemudahan
mempelajari sesuatu. Tes prestasi menunjuk-kan luasnya keterampilanmdan
pengetahuan individu yang diperoleh dalam belajar secara formal.
Tujuan tes bahasa asing, seperti
TOEFL (Tes of English as aforeign Language) dapat dimasukkan ke dalam golongan
tes kemampuan umum sebab biasanya TOEFL dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan
seseorang dalam berbahasa Inggris secara umum, bukan kemampuan hasil program
pendidikan tertentu. Seperi dikatakan oleh Hughes (1989:9), tes kemampuan
dirancang untuk mengukur kecakapan seseorang dalam suatu bahasa tanpa memandang
latihan apapun yang telah dilakukannya dalam bahasa itu. Tes bahasa Indonesia
untuk pelajar asing di sini, juga dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan orang
asing dalam berbahasa Indonesia secara umum . Tes ini dapat disebut TBIPA (Tes
Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).
D.
PENDEKATAN TES
Tes bahasa dalam kedudukannya memiliki kaitan
yang amat erat dengan komponen-komponen lain dalam penyelenggaraan pembelajaran
bahasa, terutama komponen pembelajaran yang mendasarinya
yaitu kegiatan pembelajaran. Hal serupa berlaku pula pada tujuan pembelajaran untuk
menyelenggarankan pembelajaran dengan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran
untuk mengetahui tingkat keberhasil an dilakukan evaluasi atau tes bahasa
dengan melihat keempat kemampuan bahasa. Ketiga komponen itu berkaitan satu
sama lain.
Secara umum pendekatan terhadap bahasa yang akan menentukan dan
mendasari dalam menyelenggarakan pendekatan pembelajaran bahasa. Pendekatan pembelajaran
bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa berdasarkan
keempat kemampuan bahasa. Penyelenggaraan tes bahasa tergantung pada sudut
pandang dan unsur yang dianggap penting oleh para ahli.
Perbedaan pandangan itu dikelompokkan dalam bentuk (1) Pendekatan
Tradisional, (2) Pendekatan Diskret, (3) Pendekatan Integratif, (4) Pendekatan
Pragmatik, (5) Pendekatan Komunikatif (Djiwandono, 2008: 17—30).
1.
Pendekatan
tradisional dalam tes bahasa dikaitkan dengan pembelajaran bahasa tradisional.
Pendekatan ini dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan akan keperluan sesaat.
Dengan kata lain, tes bahasa dilakukan terbatas pada kebutuhan untuk mengetahui
tingkat kemampuan tertentu seperti menulis dengan bahan ajar yang
menitikberatkan pada tata bahasa.
2.
Pendekatan
diskret dalam tes bahasa didasarkan atas paham linguistik struktural yang
menganggap bahasa sebagai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang tertata
menurut struktur tertentu. Dalam penggunaan tes pendekatan diskret, tes
ditujukan untuk mengukur hanya satu unsur dari komponen bahasa. Tes pendekatan
diskret diterapkan atas dasar pemahaman konvensional terhadap bahasa yang
terdiri dari empat kemampuan bahasa dan empat komponen bahasa.
3.
Pendekatan
integratif yang diterapkan pada tes integratif juga berdasarkan pada paham
linguistik struktural dengan rincian bahasa ke dalam kemampuan dan komponen
bahasa dan unsur-unsurnya yang dapat dipisah. Meskipun demikian pendekatan tes
integratif tidak selalu tampil secara terpisah-pisah dapat juga dalam gabungan
(integrasi) antara satu unsur dengan satu atau lebih unsur bahasa lainnya.
Dengan kata lain, tes integratif mengukur tingkat penguasaan terhadap gabungan
dari dua atau lebih unsur bahasa.
4.
Pendekatan
pragmatik pada tes pragmatik berkaitan dengan kemampuan untuk memahami suatu
teks atau wacana. Pemahaman tidak terbatas pada bentuk dan struktur kalimat,
frasa dan kata dan unsur yang digunakan dalam teks atau wacana. Pemahaman lebih
jauh diperoleh melalui konteks ekstra linguistik, yaitu aspek pemahaman bahasa
di luar apa yang diungkapkan melalui bahasa dan meliputi segala sesuatu dalam
bentuk kejadian, pikiran, perasaan, persepsi, ingatan dan lain-lain. Penerapan
tes pragmatik yang paling sering dikaitkan dengan tes cloze, di samping dikte.
5.
Pendekatan komunikatif dikaitkan dengan tes bahasa
tentang konteks ekstra linguistik seperti pendekatan pragmatik, namun cakupan
yang lebih lengkap dan lebih luas, karena bertitik tolak dari komunikasi
sebagai fungsi utama dalam penggunaan bahasa. Peranan
dan pengaruh unsur-unsur non-kebahasaan yang lebih ditekankan pendekatan ini.
Kemampuan komunikasi berkaitan dengan penguasaan terhadap tiga komponen utama,
yaitu (1) kemampuan bahasa (language competence) meliputi struktur,
kosakata, makna, (2) kemampuan strategis (strategic competence) yaitu kemampuan
untuk menerapkan dan memanfaatkan komponen-komponen kemampuan bahasa dalam
berkomunikasi lewat bahasa. (3) mekanisme psiko-fisiologis, yaitu proses psikis
dan neurologis yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa. Secara singkat
kemampuan komunikatif sebagai kemampuan yang digunakan untuk menggunakan bahasa
sesuai dengan situasi nyata, baik secara reseptif maupun secara produktif
(ability to use language appropriately, both receptively and productively, in real
situations)
Tabel TES
NO
|
KOMPONEN BAHASA
|
KEMAMPUAN BAHASA
|
|||
MENYIMAK
|
BERBICARA
|
MEMBACA
|
MENULIS
|
||
1
|
BUNYI BAHASA
|
+
|
+
|
+
|
-
|
2
|
STRUKTUR BAHASA
|
+
|
-
|
+
|
+
|
3
|
KOSA KATA
|
+
|
+
|
+
|
+
|
4
|
KELANCARAN BAHASA
|
+
|
+
|
-
|
+
|
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
tes adalah suatu alat yang digunakan oleh
pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam
memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar dalam melakukan
penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan
pengukuran terhadap kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan
menulis.
Tujuan tes
ialah untuk menjajaki seberapa besar kemam-puan pembelajar dalam menyampaikan
materi kepada pebelajar dan bagi pebelajar sebagai penjajagan seberapa banyak
materi yang mampu mereka serap selama proses pembelajaran. Dari hasil tes, pembelajar/penyusun
silabus dapat mengubah/ memperbaiki silabus, metode, dan media. Tes merupakan
pengumpul informasi
Pendekatan
pembelajaran bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa, Antara lain :
(1)
Pendekatan Tradisional,
(2)
Pendekatan Diskret
(3) Pendekatan Integratif
(4) Pendekatan Pragmatik
(5)
Pendekatan Komunikatif
DAFTAR PUSTAKA
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model
Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar