Selasa, 25 Maret 2014

TES BAHASA INGGRIS



BAB I
PENDAHULUAN
A.                LATAR BELAKANG
Dalam proses belajar mengajar, tiga unsur yang amat penting adalah metode mengajar,media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran . Dalam makalah ini akan membahas evaluasi atau tes pembelajaran dalam pembelajar Bahasa Inggris.
Dalam metodologi pengajaran, program evaluasi atau tes pembelajaran adalah untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Kedudukan media pendidikan sebagi alat bantú mengajar ada dalam komponen metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
Di sini juga akan dibahas hakekat, tujuan dan pendekatan evaluasi atau tes. Seperti yang kita ketahui bahwa beraneka ragam metodi untuk evaluasi. Untuk mencapai target evaluasi yang baik kita harus menggunakan metode dan cara yang pantas untuk anak didik yang tepat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian dalam makalah ini.

B.                 TUJUAN
Mengetahui pengertian dan hakekat sebuah evaluasi atau tes dalam pelajaran bahasa inggris
Mengetahui tujuan sebuah evaluasi atau tes dalam bahasa inggris
Mengetahui metode pendekatan sebuah evaluasi atau tes dalam pelajaran bahasa inggris










BAB II
PEMBAHASAN

A.                 PENGERTIAN
Menurut Arikunto (dikutip Iskandarwassid dan Dadang, 2008:179—180), tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Selanjutnya, menurut Nurkancana, tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
menurut Winkel dalam Sunarto (2009) yang menyatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Pengertian hasil belajar menurut Anni (2004:4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
Pengertian hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajaranya.
Pengertian hasil belajar menurut Sukmadinata (2005), prestasi atau hasil belajar (achievement) merupakan realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah, hasil belajar atau prestasi belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang telah ditempuhnya. Alat untuk mengukur prestasi/hasil belajar disebut tes prestasi belajar atau achievement test yang disusun oleh guru atau dosen yang mengajar mata kuliah yang bersangkutan.
Definisi di atas bila di ambil sebuah kesimpulan, maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
B.                 HAKEKAT TES BAHASA
Dalam proses pendidikan, evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan memainkan peranan yang besar dalam mengidentifikasi keberhasilan suatu program pendidikan. Pada dasarnya, evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh data atau informasi tentang jarak antara situasi yang ada dan situasi yang diharapkan dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Dengan menggunakan data dan informasi yang ada, guru dapat mengambil keputusan tentang kegiatan belajar mengajar selanjutnya.
Agar proses evaluasi dapat berlangsung, maka instrument evaluasi harus direncanakan, disusun, dan dilaksanakan. Salah satu instrument evaluasi yang digunakan secara luas adalah tes. Dalam pengajaran bahasa, tes seringkali digunakan sebagai satu-satunya alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar bahasa.
Tes ini biasa berupa tes baku atau tes buatan guru, tes lisan, tulisan atau perbuatan. Namun demikian, saat ini tes yang baku tertulis mendapat tempat khusus dalam evaluasi pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia untuk mengukur kemajuan dalam penguasaan. Dalam evaluasi bahasa Inggris, kita mengenal TOEFL yang validitas dan reliabilitasnya telah diakui secara luas. Dengan demikian, tes ini memiliki daya aplikasi yang luas dalam proses pembelajaran bahasa.
Tes adalah suatu proses yang sistematis dalam memperoleh dan mempergunakan informasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes bahasa Indonesia yang dilakukan saat ini masih 2 beorientasi pada pengujian teori bahasa dan teori pendidikan bahasa bukan pada apsek penggunaan bahasa yang komunikatif. Untuk mengukur kemampuan komunikatif, terutama kemampuan lisan adalah masalah yang tidak kecil. Banyak teori dan konsep-konsep yang diberikan oleh para ahli tentang bagaimana seharusnya tes komunikatif tersebut, tetapi bagaimana wujud konkretnya masih belum jelas. Seperti Marrow, (1981) mengemukakan beberapa ciri memakai bahasa dalam kehidupan sehari-hari berbahasa yang pada kenyataannya tidak diukur dalam tes-tes bahasa yang konvensional. Ciri-ciri tersebut adalah interaction, unpredictability, contex, purpose, performance, authenticity, dan behaviour-based.
Menurut Marrow ketujuh hal tersebut tidak diukur dalam tes bahasa yang konvensional, baik tes terpilah maupun tes terpadu. Pandangan lain yang menganggap bahwa perkembangan tes bahasa yang komunikatif (communicative language testing) tidak sepesat perkembangan pengajaran komunikatif bahasa (communicative language teaching), tidaklah berarti bahwa usaha untuk membuat tes komunikatif bahasa tidak dilakukan (Sumardi, Ed.; 1996:95-95). Artinya pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia secara komunikatif belum diikuti oleh perkembangan model tes pengajaran bahasa Indonesia yang komunikatif.
Dalam perencanaan dan penyusunan tes bahasa Indonesia diperlukan berbagai hal, yang dalam buku Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Bahasa Indonesia (1994) disebut rubik. Rubrik itu merupakan berbagai aspek yang menetapkan apa yang harus dilakukan oleh peserta dalam mengikuti tes. Dengan kata lain, rubrik tes berkaitan dengan prosedur tes, yang meliputi organisasi tes, alokasi waktu dan petunjuk tes. Sementara itu, input dan respons yang diharapkan merupakan 3 dua aspek yang mempengaruhi kinerja peserta dalam mengikuti tes bahasa. Input terdiri atas informasi yang terkandung dalam sebuah tes tertentu, dan peserta diharapkan memberikan respons atau jawaban terhadap input itu. Sedangkan jawaban sedikit lebih kompleks, karena ada jawaban aktual dan jawaban yang diharapkan. Perancang tes dapat menetapkan jawaban yang diharapkan ini melalui desain tes, dan dapat berusaha mendapatkannya petunjuk tes, spesifikasi tugas dan input yang tepat. Dengan demikian, respons yang diharapkan ini merupakan bagian dari metode tes. Selain faktor rubrik, dalam pelaksanaan tes pun perlu memperhatikan input.
Input menyangkut dua aspek, yaitu (1) format dan (2) sifat bahasa. Format input meliputi saluran dan bentuk penyajian, sarana penyajian, bahasa penyajian, identifikasi masalah dan tingkat kecepatan. Input dapat disajikan secara aural atau visual dalam bentuk reseptif, sedangkan jawaban dapat berupa lisan atau tertulis dalam bentuk atau modus produktif.
Format jawaban yang diharapkan meliputi jenis jawaban, bentuk jawaban, dan bahasanya. Salah satu jenis jawaban yang diharapkan adalah ―jawaban pilihan‖ dalam tes pilihan ganda. Bentuk jawaban yang diharapkan dapat berupa bahasa atau bukan bahasa. Misalnya, jawaban pilihan dalam tes pilihan ganda hanya memerlukan jawaban non-verbal, seperti memberi tanda silang pada lembar jawaban tes. Jika bentuk input atau jawaban berupa bahasa, maka bahasa itu dapat memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah panjang bahasa itu, isi proposisi, karakteristik organisasi bahasa, dan karakteristik ilokusioner.
Pada dasarnya semua pemakaian bahasa dibatasi oleh konteks atau situasi. Bahasa yang digunakan dalam tes bahasa kadang-kadang dinyatakan sebagai bahasa ―non-alami‖ atau ―non-formal‖ atau bahkan dibuat-buat. Oleh karena itu, pembatasan 4 perlu diberikan dalam pemakaian bahasa dalam tes. Ada lima jenis pembatasan oleh konteks atau situasi ini, yaitu (1) pembatasan pada saluran, (2) pembatasan pada format, (3) pembatasan pada karakteristik organisasi bahasa, (4) pembatasan pada karakteristik proposisi dan ilokusioner; serta (5) pembatasan pada waktu atau panjangnya jawaban.
Terakhir, hubungan antara input dan jawaban dalam tes bahasa dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu (1) timbal balik, (2) tidak timbal balik, dan (3) adaptif. Pemakaian bahasa timbal balik dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahasa oleh seseorang individu untuk mempengaruhi individu lain. Definisi ini mengandung sejumlah komponen, terutama komponen wacana. Selanjutnya, pemakaian bahasa non-resiprokal (tidak timbal balik) adalah pemakaian bahasa tanpa interaksi di antara para pemakai bahasa, sehingga pemakaian bahasa tidak terpengaruh. Hubungan antara input dan jawaban dikatakan adaptif apabila input dipengaruhi oleh jawaban, tetapi tanpa umpan balik yang menunjukkan suatu hubungan timbal balik. Dalam tes adaptif, tugas-tugas tertentu yang diberikan kepada peserta tes ditentukan oleh jawabannya terhadap tugas-tugas yang pernah diberikan sebelumnya.

C.                 TUJUAN TES BAHASA
Tes adalah alat, prosedur evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan testee dengan menggunakan pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan. Tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, misalnya: tes seleksi, tes masuk, tes penempatan, tes diagnostik, tes keberhasilan, tes perkembangan, tes hasil prestasi belajar, dan tes penguasaan.
Tes bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena tes dapat memonitor keberhasilan, baik pembelajar maupun pebelajar dalam mencapai tujuannya. Bagi pebelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang telah dicapai, yaitu kemampuan yang telah diperoleh, sedangkan bagi pembelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui keefektivan pendekatan, metode, teknik, serta fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaaran.
Pada dasarnya, tes dilakukan untuk keuntungan kedua belah pihak, yaitu pembelajar dan pebelajar. Tujuan tes ialah untuk menjajaki seberapa besar kemam-puan pembelajar dalam menyampaikan materi kepada pebelajar dan bagi pebelajar sebagai penjajagan seberapa banyak materi yang mampu mereka serap selama proses pembelajaran. Dari hasil tes, pembelajar/penyusun silabus dapat mengubah/ memperbaiki silabus, metode, dan media. Tes merupakan pengumpul informasi (Zuhud,1995:10).
Tidak terlepas dari kepentingan tes dalam belajar-mengajar bahasa, menurut Harris (1967:2-4) tes bahasa mempunyai enam tujuan yang berhubungan dan tidak saling mengecualikan, yaitu:
(1) untuk menentukan kesiapan pebelajar menerima suatu program pelajaran,
(2) untuk mengelompokkan atau menempatkan pebelajar pada kelas yang tepat,
(3) untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan khusus individu yang dites,
(4) untuk mengukur bakat belajar
 (5) untuk mengukur luas pencapaian tujuan belajar pada pebelajar
(6) untuk menilai keefektivan pelajaran.
Secara ringkas, enam butir itu digolongkan menjadi tes kemampuan umum atau general profiency (1-3), tes bakat atau aptitude, (4) dan tes prestasi atau achievement (5 dan 6). Tes kemampuan umum digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang pada waktu dites (sebagai hasil keseluruhan belajarnya), yang dapat juga digunakan sebagai dasar untuk meramalkan kecakapan yang mungkin dicapai selanjutnya. Tes bakat menunjukkan kemudahan individu untuk memperoleh kerterampilan khusus dan kemudahan mempelajari sesuatu. Tes prestasi menunjuk-kan luasnya keterampilanmdan pengetahuan individu yang diperoleh dalam belajar secara formal.
Tujuan tes bahasa asing, seperti TOEFL (Tes of English as aforeign Language) dapat dimasukkan ke dalam golongan tes kemampuan umum sebab biasanya TOEFL dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris secara umum, bukan kemampuan hasil program pendidikan tertentu. Seperi dikatakan oleh Hughes (1989:9), tes kemampuan dirancang untuk mengukur kecakapan seseorang dalam suatu bahasa tanpa memandang latihan apapun yang telah dilakukannya dalam bahasa itu. Tes bahasa Indonesia untuk pelajar asing di sini, juga dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan orang asing dalam berbahasa Indonesia secara umum . Tes ini dapat disebut TBIPA (Tes Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).




D.                 PENDEKATAN TES
Tes bahasa dalam kedudukannya memiliki kaitan yang amat erat dengan komponen-komponen lain dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, terutama komponen  pembelajaran  yang  mendasarinya  yaitu  kegiatan  pembelajaran.  Hal serupa berlaku pula pada tujuan pembelajaran untuk menyelenggarankan pembelajaran dengan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasil an dilakukan evaluasi atau tes bahasa dengan melihat keempat kemampuan bahasa. Ketiga komponen itu berkaitan satu sama lain.
Secara umum pendekatan terhadap bahasa yang akan menentukan dan mendasari dalam menyelenggarakan pendekatan pembelajaran bahasa. Pendekatan pembelajaran bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa berdasarkan keempat kemampuan bahasa. Penyelenggaraan tes bahasa tergantung pada sudut pandang dan unsur yang dianggap penting oleh para ahli.
Perbedaan pandangan itu dikelompokkan dalam bentuk (1) Pendekatan Tradisional, (2) Pendekatan Diskret, (3) Pendekatan Integratif, (4) Pendekatan Pragmatik, (5) Pendekatan Komunikatif (Djiwandono, 2008: 17—30).
1.                  Pendekatan tradisional dalam tes bahasa dikaitkan dengan pembelajaran bahasa tradisional. Pendekatan ini dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan akan keperluan sesaat. Dengan kata lain, tes bahasa dilakukan terbatas pada kebutuhan untuk mengetahui tingkat kemampuan tertentu seperti menulis dengan bahan ajar yang menitikberatkan pada tata bahasa.
2.                  Pendekatan diskret dalam tes bahasa didasarkan atas paham linguistik struktural yang menganggap bahasa sebagai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang tertata menurut struktur tertentu. Dalam penggunaan tes pendekatan diskret, tes ditujukan untuk mengukur hanya satu unsur dari komponen bahasa. Tes pendekatan diskret diterapkan atas dasar pemahaman konvensional terhadap bahasa yang terdiri dari empat kemampuan bahasa dan empat komponen bahasa.
3.                  Pendekatan integratif yang diterapkan pada tes integratif juga berdasarkan pada paham linguistik struktural dengan rincian bahasa ke dalam kemampuan dan komponen bahasa dan unsur-unsurnya yang dapat dipisah. Meskipun demikian pendekatan tes integratif tidak selalu tampil secara terpisah-pisah dapat juga dalam gabungan (integrasi) antara satu unsur dengan satu atau lebih unsur bahasa lainnya. Dengan kata lain, tes integratif mengukur tingkat penguasaan terhadap gabungan dari dua atau lebih unsur bahasa.
4.                  Pendekatan pragmatik pada tes pragmatik berkaitan dengan kemampuan untuk memahami suatu teks atau wacana. Pemahaman tidak terbatas pada bentuk dan struktur kalimat, frasa dan kata dan unsur yang digunakan dalam teks atau wacana. Pemahaman lebih jauh diperoleh melalui konteks ekstra linguistik, yaitu aspek pemahaman bahasa di luar apa yang diungkapkan melalui bahasa dan meliputi segala sesuatu dalam bentuk kejadian, pikiran, perasaan, persepsi, ingatan dan lain-lain. Penerapan tes pragmatik yang paling sering dikaitkan dengan tes cloze, di samping dikte.
5.                  Pendekatan komunikatif dikaitkan dengan tes bahasa tentang konteks ekstra linguistik seperti pendekatan pragmatik, namun cakupan yang lebih lengkap dan lebih luas, karena bertitik tolak dari komunikasi sebagai fungsi utama dalam penggunaan bahasa. Peranan dan pengaruh unsur-unsur non-kebahasaan yang lebih ditekankan pendekatan ini. Kemampuan komunikasi berkaitan dengan penguasaan terhadap tiga komponen utama, yaitu (1)  kemampuan bahasa (language competence) meliputi struktur, kosakata, makna, (2) kemampuan strategis (strategic competence) yaitu kemampuan untuk menerapkan dan memanfaatkan komponen-komponen kemampuan bahasa dalam berkomunikasi lewat bahasa. (3) mekanisme psiko-fisiologis, yaitu proses psikis dan neurologis yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa. Secara singkat kemampuan komunikatif sebagai kemampuan yang digunakan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan situasi nyata, baik secara reseptif maupun secara produktif (ability to use language appropriately, both receptively and productively, in real situations)




Tabel  TES
NO
KOMPONEN BAHASA
KEMAMPUAN BAHASA
MENYIMAK
BERBICARA
MEMBACA
MENULIS
1
BUNYI BAHASA
+
+
+
-
2
STRUKTUR BAHASA
+
-
+
+
3
KOSA KATA
+
+
+
+
4
KELANCARAN BAHASA
+
+
-
+














BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Tujuan tes ialah untuk menjajaki seberapa besar kemam-puan pembelajar dalam menyampaikan materi kepada pebelajar dan bagi pebelajar sebagai penjajagan seberapa banyak materi yang mampu mereka serap selama proses pembelajaran. Dari hasil tes, pembelajar/penyusun silabus dapat mengubah/ memperbaiki silabus, metode, dan media. Tes merupakan pengumpul informasi
Pendekatan pembelajaran bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa, Antara lain :
(1) Pendekatan Tradisional,
(2) Pendekatan Diskret
 (3) Pendekatan Integratif
 (4) Pendekatan Pragmatik
(5) Pendekatan Komunikatif








DAFTAR PUSTAKA
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar